SURAT SAHABAT
Syukron jiddan ya akhi…..
Syukron jiddan ya akhi…..
Saat kemelut dan segala problematika menyerang hidupku seakan ku bagaikan seekor anak burung yang terpisah dari induknya. Ku tak tahu lagi kemana aku harus mencari indukku. Aku terbang hilir mudik mencari saudara ku namun tetap saja aku sendiri. aku pun rapuh. Aku lebih baik mati tanpa seorang yang kusebut ibu dan tanpa saudara-saudara ku. Namun semakin aku rapuh semakin banyak rintangan yang harus kulalui. Aku kelaparan. Aku kehausan. Aku kedinginan dan aku kesakitan dipatok rajawali yang besar itu. Perlahan-lahan aku pun mengerti tentang hidup. Aku mulai bisa mencari makan, minum di telaga dan terbang setinggi-tingginya. Aku menikmati hidup. Tak ada air mata yang keluar dari mataku sampai waktunya nanti tiba. Sampai kau datang kepadaku. Wahai merpatiku yang indah mengenalmu tak kan pernah kusesali. Seteguk air yang kau bawa lewat tempurung nira kau suguhkan kepada ku telah mampu membasahi tenggorokanku yang kering. Aku tak peduli seberapa besar`cintamu untukku. Satu hal yang ku tahu aku damai mendengar kata-kata indahmu. Tubuh ini berdebar saat berada di dekatmu. Rindu semakin menyesak saat ragamu jauh dari ku. Namun tak pernah bisa bibirku mengisyaratkan cinta. Lidahku seakan kaku saat berjumpa denganmu. Mataku tak sanggup melihatmu. Entah apa yang tengah ku rasa. Cintakah ??? astagfirullah sungguh lemah iman ku ya rabb. Namun komitmen tetap komitmen aku tak kan pernah mencintaimu semampu aku menepis dan menepis nya hingga hilang dari qalbuku. Satu kata untukmu merpatiku. Syukron jiddan ya akhi. Syukron. Syukron. Jazakallah khoir.
Salam hangatku, oktober 2010
Sahabatmu, merpatiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar