PENAKLUK WAKTU

PENAKLUK WAKTU

Sabtu, 19 Juli 2014

Kilas Balik Mahasiswa

AYO…BANGKIT PEMUDA !!!!!!
JANGAN TITIPKAN REFORMASI PADA SIAPAPUN Hidup mahasiswa….
sebuah jargon yang sering didengarkan dan dijunjung tinggi oleh seorang mahasiswa. Jargon yang mampu memacu adrenalin jiwa sang pemuda. Jargon yang mampu mengobarkan api semangat pemuda indonesia yang bergelarkan mahasiswa. Namun, apalah arti sebuah jargon tersebut jika dalam faktanya tak banyak yang bisa dilakukan seorang mahasiswa untuk negara dan bangsanya.
Dunia kampus kini kian hari kian sepi dengan aktivis-aktivis yang selalu menjadi kritikus dalam setiap kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Kian hari semangat idealistik mahasiswa kian surut. Bahkan pergerakan mahasiswa pun tak lagi dianggap sebagai suatu gerakan idealis tapi diklaim sebagai gerakan yang matearilistik, pragmatis dan hedonistik. Ditambah lagi dengan dominasi dari kalangan mahasiswa nasionalis religius yang sering menjadi tanda tanya besar dalam setiap afiliasinya oleh sejumlah masyarakat awam. Tentu tak sama antara mahasiswa dengan pelajar. Apalagi ada embel-embel”Maha” dalam kata tersebut. Maha artinya agung atau besar atau segalanya. Dimana seharusnya memang fase mahasiswa adalah fase segala-galanya ada dalam diri mahasiswa. Semangat yang menyala, keikhlasan dan keyakinan yang kuat mencerminkan identitas seorang mahasiswa. Sayangnya tidak semua mahasiswa menyadari apalagi memberdayakan potensi yang ia miliki. Bahkan berbagai pihak alumnus aktivis kampus sering gregetan menyaksikan pergeseran paradigma baru dalam mind set mahasiswa sekarang. Mahasiswa sekarang terkesan lamban dalam menangkap informasi-informasi, kurang melek terhadap perkembangan-perkembangan negaranya atau bisa dibilang katak dalam tempurung. Hal ini bisa dilihat ketika mahasiswa diwawancarai wartawan mengenai argumentnya terhadap aksi yang dilakukannya, tidak jarang mahasiswa menjawab tidak tahu atau gelagapan dalam memberikan argumentnya. Sejatinya mahasiswa adalah jembatan yang mampu menjadi penghubung antara masyarakat dan kaum elite pemegang kebijakan. Dengan kesederhanaan jiwanya dan tutur bahasanya yang lugas dan mudah dimengerti masyarakat mahasiswa mampu menampung aspirasi masyarakat. Begitu pun sebaliknya dengan intelektualitas yang tinggi dan berbekal keberanian, mahasiswa mampu menjadi penyambung lidah masyarakat di tengah kaum elite politik pemegang kekuasaan. Namun karakteristik mahasiswa tersebut nampaknya berbanding terbalik dengan realita yang ada sekarang. Mahasiswa sekarang cenderung berpikir pragmatis, subyektif, parsial dan bahkan opportunis. Hal ini sangat wajar jika mahasiswa tidak selalu berupaya untuk mengembangkan potensinya atau pun mengasah pisau analisisnya. Bahkan tradisi-tradisi keilmiahan di kampus seringkali terabaikan oleh sebagian mahasiswa akibat tuntutan hasil belajar akademik. Pada era reformasi ini, mahasiswa dituntut sangat peka terhadap lingkungan dan mampu menjadi figur sebagai problem solver bukan sebagai problem speaker. Negara tidak membutuhkan mahasiswa-mahasiwa yang “asbun” (asal bunyi) ketika kondisi negara dalam keadaan genting seperti sekarang ini, korupsi, kolusi dan nepotisme kian menjamur di tengah kalangan elite politik. Sementara mahasiswa hanyut terbuai oleh sistem pendidikan yang menetaskan mahasiswa bermental katak dalam temperung, tumpul dalam menganalisa keadaan, kurang melek informasi, materialistik bahkan opportunis. Negara sekarang seolah haus menanti insan yang idealisme, objektif, kritis dan solutif. Ide-ide briliant yang solutif dari seorang pemuda yang berpikir idealis sangat dibutuhkan oleh sebuah negara, bukan hanya pemuda yang mampu beretorika dan bercuap-cuap dijalanan. Beranjak kebelakang agar mahasiswa menyadari esensi utama sejatinya mahasiswa itu seperti apa. Bagaimana pemuda memulai mengesensikan dirinya dalam sebuah wadah organisasi Budi Oetomo pada 20 mei 1908. Kemudian pada 28 oktober 1928, pemuda menjadi pemicu api kobaran semangat memperjuangkan kemerdekaan yang diwujudkan dalam gerakan-gerakan pemberontakan-pemberontakan di berbagai wilayah. Puncaknya terlihat jelas bagaimana pemuda memainkan perannya pada tanggal 16 agustus 1945 dimana dengan keberanian dan keyakinannya, para pemuda menculik Soekarno untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia. Mungkin jika pemuda tidak berani mengambil resiko atau justru mendengarkan nasihat para tokoh tua maka negara Indonesia tidak akan merdeka pada tanggal 17 agustus 1945. Pergerakan pemuda ternyata tidak sampai pada saat perebutan kemerdekaan saja. Namun berlanjut dengan gerakan-gerakan moral yang muak akan ketimpangan sosial dan korupsi birokrasi misalnya pada gerakan mahasiswa era 1965 yang menggelorakan Tritura dan memaksa mahasiswa berkoalisi dengan TNI AD akibat pembunuhan para jenderal pada G30 S/PKI dan alhasil gerakan mahasiswa mendapat dukungan masyarakat dan berakhir dengan runtuhnya rezim Soekarno. Kemudian pada zaman pemerintahan Soeharto Era 1998 terjadi krisis moneter yang berkepanjangan, KKN terjadi disana-sini dan puncaknya gerakan mahasiswa mampu menurunkan rezim Soeharto. Pemuda dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya tidak mendapat intervensi dari pihak manapun. Pemuda yang beridentitaskan mahasiswa mampu melihat yang hitam adalah hitam dan yang putih adalah putih. Pemuda bergerak dengan hati nurani bukan karena kepentingan kekuasaan. Pemuda tidak dapat dihalangi oleh siapapun jika ia meyakini sesuatu itu benar. Bahkan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) atau pun Badan Koordinasi Kampus (BKK) yang dibentuk oleh pemerintah pada Zaman Ode Baru untuk mengawasi gerak-gerik mahasiswa ternyata tidak cukup ampuh untuk mematikan gerakan mahasiswa tapi gerakan mahasiswa justru semakin masif. Karena mahasiswa mampu melihat secara idealistik dan bergerak untuk masyarakat. Inilah sejatinya seorang mahasiswa. Pemuda sekarang adalah cerminan pemimpin masa mendatang. Jika Mahasiswanya sekarang benar-benar seperti yang digambarkan di atas maka tidak bisa dibayangkan bagaimana nasib negara mendatang. Semoga saja masih ada serpihan-serpihan semangat yang tersisa dari pemuda era reformasi sekarang untuk bergerak dinamis, cepat dan mampu memberikan gagasan solutifnya untuk sebuah bangsa. Ayo bangkit, Pemuda !!! mari kita ukir lagi sejarah, jangan titipkan reformasi pada siapapun.
Mifta Hussa’adah
Universitas Sriwijaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar